Jalan-jalan Itu Jangan Ketinggian Ekspektasi

0 comments


Beberapa waktu lalu...

Ada yang nunjukin hape, pamer foto romantis di sebuah obyek wisata sekaligus kasih tagar #JalanYuk. Sepanjang perjalanan beliau begitu ceria buka-buka gambar serupa di medsos sampai-sampai jalanan sempit naik turun berkelok yang berpotensi bikin sport jantung mendadak terabaikan.

Sesaat setelah memarkir kendaraan baru tampak ada sedikit kerut di kening melihat tanjakan curam dan panjang yang harus ditempuh berjalan kaki. Tiba di puncak bukit kadarnya meningkat menjadi was-was menatap jalan setapak diapit jurang dalam tanpa pagar pengaman, sementara 2 balita yang dibawa bukan tipe anak mami yang tak kenal pecicilan. Tepat di spot yang katanya teramat romantis bukannya keluarin kamera malah duduk lemes sambil berbisik, "cuma ini doang yang bagus..???"

Kalo ada yang pernah merasakan hal sama ketika pelesiran, itu tandanya anda mengidap sindrom ketinggian ekspektasi.



Baca agenda Dieng Culture Festival, langsung ngacir dengan semangat 45. Sepanjang perjalanan cengar-cengir ngelamunin dahsyatnya acara yang tersusun begitu apik. Nonton jazz di atas awan, pelepasan lampion lalu besoknya menyaksikan ruwatan rambut gimbal nan ekslusif, dll dll

Ternyata kejadiannya adalah, balon-balon impian diatas kepala itu satu persatu pecah berkeping-keping. Perjalanan panjang yang semestinya nyaman terasa menyebalkan macet di sana sini. Penginepan sudah harganya melonjak susah didapat pula. Pelepasan ribuan lampion yang dibayangkan serentak dan wah, dapatnya malah geregetan gara-gara banyak yang mencuri start menerbangkan sebelum waktunya dst dst



Zaman dimana kamera jahat dan medsos merajalela, mencari spot selfie yang keren sangatlah gampang. Yang sering terabaikan adalah informasi pendukungnya. Lokasinya ramah anak apa engga, selain tempat foto ada obyek lain atau tidak dan banyak lagi pertanyaan serupa yang tak terungkap. Makanya bila berekspektasi terlalu tinggi saat merencanakan perjalanan, percaya deh yang didapat pastilah kekecewaan.

Jadi kepiye..?
Kreatif lah dikit...

Misalnya nemu jalanan rusak penuh lubang bergelombang. Daripada menggerutu merusak suasana hati, mendingan minta pak sopir memutar lagu anak-anak supaya berasa naik odong-odong dan biarkan kenangan masa kecil yang bahagia kembali mengalun dalam kalbu. 



Pengen motret ritual Waisak di Borobudur ternyata tidak bisa masuk terhalang jubelan pengunjung, putar saja pandangan cari spot lain yang asik. Misalnya jepretin kelakuan turis lain yang lagi berpose ajaib. Percaya atau tidak kadang hasilnya lebih menarik ketimbang foto acaranya yang kalo mau ketik di google bakal muncul bejibun gambar serupa.

Saran terbaik, carilah informasi yang jujur baik secara online atau konsultasi dengan tour agent. Atas nama marketing banyak agen yang suka mengaburkan bagian tidak enaknya. Bahkan tulisan seorang travel blogger terkenal pun tidak menjamin penyajian datanya seimbang. 

Bedainnya gimana..? 
Pokoknya simak saja ceritanya, kalo semuanya terasa indah bahkan berlebihan, skip saja dan cari info pihak lain.

Malas googling, monggo kontak AdventureYogya.Com. Setelah punya gambaran tentang manis dan pahitnya, segeralah berkemas. Tak perlu baperan. Nikmati saja suasana yang ada dan biarkan perjalanan memberikan kejutan-kejutan tak terduga...


Kira-kira begitu...

Rawin


Pilih Liburan Dengan Travel Agent Atau Urus Sendiri..?

0 comments


Musim liburan hampir tiba. Benarkah urus liburan sendiri itu lebih murah dan meriah ketimbang menggunakan jasa agen perjalanan..? Tidak ada patokan pasti, namun kira kira ceritanya begini...

Pake agen itu terkesan tidak leluasa karena harus mengikuti jadwal yang sudah ditentukan dan relatif sulit diubah ketika mendadak menemukan sesuatu yang lebih menarik di sekitar tujuan. Misal begitu mendarat di Stasiun Tugu jadwalnya ke Kraton, ya wajib ke kraton. Keinginan menjelajahi flower market harus ditahan sekuat hati walau dari stasiun jaraknya cuma saknyukan.

Begitu juga durasi waktunya...
Jatah di bonbin cuma satu jam, biar kata masih kangen berat sama saudara tua di sana, mau tidak mau harus say good bye. Rasanya seperti diburu-buru memang. Seperti habis begadang di Malioboro  itu enaknya bangun siang, eh sebelum subuh dibangunin untuk mengejar jadwal nonton sunrise di Bukit Panguk. Belanja oleh-oleh penginnya bakpia Kurniasapi, pemandu wisata antarnya ke bakpia 577 dengan alasan, "kurniasapi itu bakpianya bikin mual mules, kalo tidak percaya tanya ke tukang becak, ojek atau sopir travel..."
Nyebelin kan..?

Urus sendiri artinya bebas menentukan segala sesuatu sehingga anggaran biaya "katanya" bisa ditekan seminimal mungkin. Yang diperlukan hanya sedikit tambahan waktu untuk riset tujuan, penginapan, transportasi dll yang datanya bertebaran di google.


Sayangnya dis wan indonesia no yu es e...
Kadar kemalasan admin web wisata dalam meng-update informasi banyak yang berada di level pekok. Jadi harus siapkan cadangan dana dan waktu untuk antisipasi perbedaan rencana dengan kondisi nyata apalagi bila berada di posisi long weekend atau peak season.

Misal...
Pesan homestay liat di web (mungkin karena jepretnya pake aplikasi kamera jahat) tampilannya persis Luna Maya. Begitu disamperin, weladalah ternyata berwujud Lucinta Luna. Merasa kurang sreg, otomatis butuh waktu untuk cari pengganti. Ada yang kamarnya cocok harganya jauh diatas budget. Cocok kamar dan harga, lokasinya agak jauh yang artinya butuh tambahan biaya untuk ngojek. Belum soal kejebak macet, disasarin GPS dan sejenisnya yang berpotensi membuang waktu dan membengkakan anggaran dengan semena-mena.
Nyebelin kan..?

Melalui agen perjalanan...
Segala sesuatunya sudah dipersiapkan. Mau makan di kuliner terkenal tak perlu antri karena petugas dari agen sudah jalan duluan sebelum wisatawan sampe ke warung makan. Kemana-mana ada pendamping yang kenal medan. Belanja batik bisa minta info terlebih dulu harga wajarnya berapa. Ketemu jalanan macet bisa dicarikan jalan tikus. Rasa cemas akan overbudget relatif tidak terjadi.

Yang penting karena travel agen harus bayar di depan, cari agen yang terpercaya, respon cepat dan mudah diajak diskusi. Jangan tergiur penawaran paket murah, nanti ketiban nasib seperti jamaah umroh yang itu kan cucian banget. 

Carilah testimoni dari internet atau teman dekat yang pernah liburan pake agen perjalanan. Semakin banyak referensi semakin baik karena testimoni bersifat subyektif. Tidak semua cerita buruk murni kesalahan agen. Ada loh satu cerita. Agennya baik-baik saja, tapi yang umroh diajak balik ga mau malah bikin tagar #2019GantiAgen.
Nyebelin kan..?

Trus kepiye..?
Mau susun sendiri rencana perjalanannya atau hubungi AdventureYogya.Com ..?

Selamat berlibur..!


Rawins
 

Tips Belajar Snorkeling di Pantai Sadranan

0 comments


Habis cerita tentang Snorkeling di Pantai Nglambor kemarin, ada yang nge-chat via pesbuk, "dari Jogja jaraknya berapa kilo..?"

"Sekitar 70 km..."
"Waduh kok jauh ya..? Yang lebih dekat ada gak..?"
"Kalo begitu ke pantai Sadranan saja..."
"Berapa jauh dari Jogja..?"
"Sekitar 65 km..."
"Hadeuh... Maksudnya yang kurang dari 10 kilo ada gak..?"
"Ada..."
"Pantai apa..?"
"Ya pantai Sadranan itu. Tapi berangkatnya dari pantai Baron, jangan Jogja..."

Mendadak hening...
Tak tampak ada kehidupan lagi di aplikasi message pesbuk...




Yo wes lah...
Ketimbang ngelamun bagai pungguk merindukan THR, eh notifikasi japri, mendingan bagi-bagi tips buat yang ingin mencoba serunya wisata pantai yang berjudul snorkeling. Buat yang belum pernah tak perlu ngeper duluan apalagi sampai baper membayangkan latihannya akan sulit seperti saat berjuang melupakan mantan. *sayup-sayup terdengar backsound ditinggal rabi-nya Van Hallen...

Sebelum berangkat ke pantai, ada baiknya memeriksa kalender yang ada wage kliwon-nya. Bukan untuk menghitung weton mantan yang ninggal rabi, melainkan melihat tanggalan Jawa atau Hijriah. Pertengahan bulan adalah waktu terbaik berkaitan dengan pasang surutnya air laut.

Selanjutnya soal waktu. Siang hari adalah pilihan terbaik karena sinar matahari bisa menembus sampai ke dasar laut. Jangan memaksa snorkeling malam hari. Selain ribet harus bawa lampu, ikan-ikan yang lucu pun kemungkinkan sudah pada tidur. Kalo pun ada yang berkeliaran, bisa jadi cuma ikan yang lagi ronda atau ikan alay yang gemar begadang.

Kemudian peralatan yang dibutuhkan adalah sepatu katak, masker selam aka kacamata renang yang menutupi hidung dan snorkel alias selang udara yang digunakan untuk bernafas. Baju pelampung bisa ditambahkan untuk menambah unsur keselamatan. Namun perlu diketahui, pelampung sedikit menyulitkan pergerakan. Harga sewa alat dengan dan tanpa pelampung perbedaannya sekitar 5 - 10 ribu rupiah. Jadi silakan sesuaikan dengan kebutuhan yang penting tidak mengabaikan faktor keselamatan.

Saat ini di mana selfie lebih penting dari pada wisatanya itu sendiri, kamera dianggap peralatan primer yang wajib ada. Tak perlu sibuk ke warung cari plastik atau lakban bening buat ngebungkus ponsel, di tempat persewaan alat snorkeling biasanya juga menyewakan kamera kedap air dengan harga terjangkau sekitar 20 - 30 ribuan.



Persiapan sudah, tinggal latihan teknik...
Baiknya diawali dengan berdoa sesuai keyakinan kemudian berendam dulu agar tubuh beradaptasi dengan tekanan air. Jangan lupa latihan menarik dan menghembuskan nafas melalui mulut menggunakan snorkel. Awalnya mungkin agak aneh. Mirip-mirip orang baru putus cinta gitu deh, yang kemana-mana selalu berdua tau-tau mau ngapa-ngapain harus sendiri. Tapi dont worry lah, ga pake lama ngomong sama tembok juga berasa biasa kan..? *backsoundnya ganti lagu cengeng, aku tak biasa bila ku tidur tanpa belalaimu huwoo huwooo...

Setelah agak terbiasa bernafas melalui mulut, silakan nyebur secara total. Biarkan badan mengambang dan tak perlu lebay mikirin berbagai gaya berenang. Pokoknya asal tengkurep anda sudah di jalan yang diridhoi karena snorkeling dengan gaya punggung itu cuma milik orang harus Belajar Mengolah Teh di Nglinggo. *apa hubungane..??

Pastikan masker terpasang dengan benar dan tepat di posisi. Tes dulu beberapa kali untuk memeriksa ada kebocoran apa tidak. Jangan sampai lagi asyik melihat taman bawah laut tiba-tiba masker kemasukan air laut. Perihnya pake banget, cuy. Rasanya seperti kelilipan mantan yang bergandengan tangan sama pacar baru di depan mata. *panci mana panci..?

Tak perlu terlalu banyak bergerak untuk menghemat tenaga, toh bukan lagi balapan. Ikuti saja arus air namun sesekali perlu melihat ke permukaan untuk meyakinkan posisi tidak terlalu jauh dari pantai. Terlalu terpesona dengan mainan baru eh tau-tau terdampar sudah di Jepang kan repot.

Apalagi yak..? 
Kayaknya itu aja sih...
Hal-hal lain yang belum tercantum akan diatur kemudian oleh pemandu wisata.
Lah itu kan kalo ada pemandunya, kalo tidak ada bagaimana..? 
Gampang, kontak saja AdventureYogya.Com oke..?




Wisata Edukasi Belajar Mengolah Teh Secara Tradisional di Nglinggo

0 comments


Bagi generasi milenial, "praktis" sepertinya sudah menjadi keharusan. Satu contoh sederhana adalah minum teh. Anak sekarang jangankan mengolah teh mentah, yang mau bikin teh tubruk saja bisa dihitung dengan jari. Kebanyakan lebih suka memilih teh botol. "Tinggal lep", katanya...

Mereka tak sadar, mau yang serba instan itu telah menyuburkan sifat malas kronis secara sistematis di segala bidang. Mungkin saking malasnya mikir gegara kecanduan teh botol sampai-sampai apapun masalahnya, jawabannya #GantiPesinden...
#Pekok

Di lain sisi, kita sering kagum melihat orang bule kenapa mereka pinter-pinter. Bahkan anak kecil pun sudah lancar berbahasa asing sementara kita yang kuliah sampe tujuh keliling cuma bisa bilang oh yess. Padahal tak perlu segitunya karena rahasianya sebenarnya sederhana yaitu teh.

Apa susahnya kita lupakan teh botol yang praktis kemudian belajar mengolah teh seperti mbak-mbak bule di Desa Wisata Nglinggo..?

Caranya tidak sulit, cukup hubungi AdventureYogya.com segala sesuatunya bisa diatur. Misal tidak mau diajarin mbok-mbok maunya sama mbak-mbak, bisa. Rikues mentor bule pun bisa. Andai kata bule yang di foto tidak bisa masuk kelas karena sedang ngarit, masih ada dosen cadangan bule Uchi atau bule Ningrum dan bila perlu dibantu pakle Yanuar

Gimana..?
Berminat mempelajari kearifan lokal dengan Paket Wisata Edukasi di Nglinggo..? Kalo saya sih yess. Tidak tau kalo mas Anang...

Rawins
AdventureYogya.Com
Supported by Batik Tour

Tips Belajar Canoe Tanpa Lupa Bahagia

0 comments

Pernah lihat orang asik bermain kano..?

Nah, daripada cuma bengong ngebayangin kenapa tidak mencoba sendiri dan rasakan sensasinya. Bukan hanya bikin otak yang jenuh mikir cicilan berubah fresh, berkano juga termasuk olah raga yang menyehatkan. Lihat saja menteri Susi yang gemar mengayuh kano, beliau tetap segar bugar di usia yang sudah melewati setengah abad.



Tidak terlalu susah kok canoeing itu. Yang diperlukan cuma mengasah keseimbangan dan melatih kekuatan khususnya pergelangan tangan. Secara garis besar, tips triknya kira-kira begini...

Yang pertama tentu niat selepas bangun tidur. Baca nawaitu bla bla bla boleh, tidak baca pun tetap sah menurut hukum asal ongkos buat berkano bukan hasil korupsi. Setelah itu bikin quote of the day, "awali pagi dengan sarapan". Karena kalo cuma dengan senyuman, teman anda harus siap-siap nelpon ambulans selama anda berkano.

Fisik mental sudah ready, saatnya menyiapkan peralatan. Cek kano dengan cermat agar yakin kondisinya laik kecehan. Bisa berenang atau tidak wajib mengenakan baju pelampung untuk antisipasi keselamatan. Pilih yang berbentuk rompi, bukan ban apalagi bebek-bebekan. Helm jangan lupa dipakai biarpun rute canoeing-nya tidak melewati pos polantas.

Naik ke perahu dan bikin perasaan nyaman terlebih dahulu. Pegang dan gerakan dayung untuk membiasakan keseimbangan sampai yakin untuk lanjut ke tahap berikutnya. Untuk maju dengan posisi lurus, dayung yang ada di tangan kiri dan kanan anda kayuh ke belakang. Semakin cepat kalo kayuhannya gerakan perahu akan lebih cepat pula. Kalo mau belok ke kanan, majukan dayung di tangan kanan. Sebaliknya, kalo mau belok ke kiri gerakkan dayung di tangan kiri.



Tidak sulit kan..?
Haqul yaqin tidak..! Apalagi kalo berkanonya di Kampung Wisata Remboko bersama Adventure Yogya. Ke lokasi bisa dianterin, dijemput dari hotel anda. Peralatan keselamatan, instruktur, rescue bahkan pendamping buat cannoers jomblo disediakan. Dan yang pasti anda tak perlu takut kantong bakal bolong terlalu dalam.

Pokoknya ingat-ingat saja falsafah berikut. Dengan lihai berkano, anda sudah maju satu langkah dari ribuan langkah yang diperlukan untuk menjadi menteri seperti bu Susi.
Betul..?

Ayo ke Yogyakarta...
Eksplorasi alam, budaya dan keunikannya bersama Adventure Yogya

Wisata Viral Be a Bajingan

0 comments

Pernah kepikiran selfie menjadi Bajingan..?

Ngapain cuma bayangin..?
Daripada suatu saat anaknya ngiler gegara ngidam tak keturutan, mendingan kunjungi Kampung Wisata Remboko di daerah Sleman, Yogyakarta. Tujuan wisata yang masih fresh kinyis-kinyis itu selain menyajikan tubing, kano, outbond dan sejenisnya, juga menyediakan Spot Bajingan.


Ehiya...
Yang bukan orang Jawa jangan baper dulu membayangkan spot foto ala gentho Pasar Kempit atau berekspektasi terlalu jauh tentang gangster Wild West. Bajingan yang dimaksud di sini adalah driver gerobak sapi, angkutan tradisional yang mendekati kepunahan dan mencoba dilestarikan di Remboko.

Kalau masih ada yang penasaran dengan istilah bajingan, okelah kira-kira konon sejarahnya dimulai pada jaman dahulu kala saat putri dan pangeran belum bahagia selamanya. Dimana ojek online belum merajalela dan sarana transportasi masih dikuasai kendaraan ditarik hewan dalam hal ini kuda atau sapi.

Saat itu kereta kuda menjadi angkutan kelas eksekutif karena cepat sampai ke tujuan. Walau sama-sama menyediakan fasilitas toilet (buat kuda dan sapinya), gerobak sapi dikategorikan transportasi kelas ekonomi yang super woles.

Anehnya, sudah tau labelnya ekonomi, calon penumpang masih saja suka memisuhinya. Lebih anehnya lagi, yang bikin pelan itu sapinya, tapi yang diomelin selalu driver aka bajingannya sampai terucaplah sumpah serapah, "bajingane suwe tenan ra teko-teko..." (bajingannya lama sekali ga datang-datang..)

Terbawa kebiasaan warga Indonesia Raya yang suka melebarkan masalah, ketika ada orang yang lelet atau menyebalkan suka dibilang kaya bajingan. Sekian waktu berlalu, istilah bajingan kian membias seperti menggunakan deret ukur sampai-sampai bukan cuma masyarakat awam, KBBI pun meletakan bajingan persis di bawah kata bajing yang identik dengan binatang nakal.


Tapi sudahlah...
Tak penting orang bilang apa tentang istilah bajingan. Yang penting anda harus mencoba spot langka yang cuma ada di Kampung Wisata Remboko ini minimal sekali seumur hidup atau bakal menyesal bila suatu saat menemukan fakta gerobak sapi sudah tidak ada lagi di muka bumi tergusur taksi online.

Ayo ke Yogyakarta...
AdventureYogya siap membantu...


 
Adventure Yogya © 2018 | by Interline Cruises